Kamis, 08 September 2011

time to move on !


My job description has been move up now,
big task is coming,
time is limited,
most of my free time is dedicated to my family,
i believe my time of playing with all of camera toys will start to be reduced,
but nothing to worry about,
there will be a way to manage everything as simple as I can,
to enjoy my camera while taking picture of my family,
to enjoy new position as a way to improve my self
to enjoy the limited time as a gift i need to take care seriously
still there is a way to make life as simple as possible.
simple is beautiful..!

Jumat, 26 Agustus 2011

Me and my M..


simple, right?
it's just me and my M..
my "do-it-yourself" Black Painted Leica M2 Titanium Curtains

Senin, 15 Agustus 2011

If you can't buy it..



then MAKE IT !!

my example :
- I can't buy Black Paint Contax IIa (is there ever exist one in the world ?), I made one (BP CIIa)
- I can't buy Black Paint Leica series iii, I made one (BP iiic)
- I can't buy Black Paint Leica M2, I made one (BP M2)
- I can't buy Leica RF with Titanium curtain (is there any ?), I made three of this (M3-T, M2-T, IIIC-T)


- I can't buy Sonnar lens in Leica Mount, I made one ( Ltm version of CZJ Sonnar 5cm f2)
- I can't buy Leica M-rewinder adapter, I made one (on my M3)
- I can't buy RF with uncluttered finder, I made one (Hexar RF with ZI-like finder)

you need to make it happen !!

Selasa, 26 Juli 2011

tired for the newbie stuff, i'll go on for something different


Lama nggak update blog, sudah lupa lanjutannya harus gimana, jadi mending saya lanjutkan dalam bentuk lain saja, siapa tau lebih enak nulisnya dan enak bacanya..

Dari awal saya kenal fotografi, bermula dari Pentax MG warisan Babe, yang lengkap dengan lensa jamuran (ngefog malah) yang jadi mainan jaman SMA. waktu kuliah, hasrat motret nggak bisa tersalurkan, nggak ada duitnya. walau saat tugas akhir, akhirnya nekat minta dibeliin kamera digital, alhasil sebuah canon PS A200 jadi mainan, motret dan merekam TA, juga motretin pacar..

my girl, @21th

jaman dulu, bisa motret 640x480 saja sudah mantap, format favorit saya tuh, nggak ada yang namanya ngecrop, just shoot, and posting..
jadi kalo framingnya jelek ya ketahuan, nggak kaya jaman sekarang... lho kok malah bahas powershoot a200 ? gak papa lah, semua kamera bisa dipake motret kok..yang penting hasilnya..


jaman sekarang 6megapixel kamera mungkin gak ada artinya, 10mega ?? mungkin kepake. semua orang pinginnya ngejar kamera yang pixelnya banyak, walau pada akhirnya saat buat posting ke forum cuma kepake sekitar 800x600pixel..what a waste.. !

or not ? buat yang suka nyetak gede, mungkin terasa makin gede megapixel makin bagus detailnya. tapi berapa orang yang nyetak lebih besar dari 4R ?
dengan kamera 2megapixel seperti canon PS A200 jadul saya, which is 1600x1200pixel, asumsi mesin cetaknya pake settingan 300dpi, bisa sekitar 5.3incix4inci => 15cm x10cm, kalo nggak salah ini sekitar ukuran 8R.. cukup ???



all pictures, 640x480 no crop, from my old glorious(?!) Canon PS A200

Jumat, 29 Oktober 2010

Simple Photography : Camera Exposure Modes !


Karena kamera pada dasarnya hanya memiliki 2 parameter ( + iso ), maka ada minimum 4 kombinasi mode exposure dari parameter tersebut :

P (Program) atau A (Auto) = baik speed maupun aperture dikendalikan kamera. Kamera memilih salah satu dari kombinasi exposure yang ada menurut kondisi cahayanya.

Av (Aperture Priority) = User mengendalikan aperture, kamera mengendalikan speed sesuai dengan kondisi cahaya.

Tv / Sv (Time priority / Speed priority) = User mengendalikan speed, kamera mengendalikan aperture sesuai dengan kondisi cahaya

M (Manual) = Speed dan Aperture dikendalikan oleh user (kamera tidak bisa merubah pilihan user). Tapi kamera tetap memberikan petunjuk di metering systemnya apakah (menurut otak kamera) gambarnya terlalu terang atau terlalu gelap. Pada akhirnya, user yang harus menentukan kombinasi speed & aperture apa yang akan dia pakai.

Tidak semua kamera memiliki 4 mode ini. Misalkan kamera di HP anda, mungkin dia hanya memberikan dua pilihan speed (1/100s untuk normal, dan 1/15s untuk night mode/lowlight), aperture dan iso diatur oleh kamera. Jadi seolah-olah, HP anda memiliki mode Tv (speed priority), walau implementasinya lebih mirip P (Program) mode.

Misalkan di rangefinder Yashica GX, hanya menyediakan kontrol untuk aperture. speed diatur oleh kamera, jadi mode yang ada hanya Av.

Di kamera manual tua, Pentax K1000 misalkan, hanya menyediakan mode M. Di kamera yang lebih canggih, Pentax LX, disediakan mode M dan Av, dll. Tapi di digital SLR, semua mode diberikan (seharusnya).

terlepas dari 4 mode itu, ada mode B atau T.

B = Bulb, selama apapun tombol shutter dipencet, shutter curtain akan terus dibuka sampai tombol shutter dilepas. Hal ini sering digunakan untuk pemotretan low light yang membutuhkan waktu lama (sekali), misalkan memotret "star-trail", hingga berapa jam waktu exposurenya. Kadang dibutuhkan external release cable yang bisa dilock, jadi tombol shutter bisa dilock dalam posisi tertekan. Di DSLR, user harus memperhatikan ketahanan baterainya, karena bisa-bisa baterai habis saat dipakai memotret lama.

T = Time, mirip Bulb. Bedanya user tidak harus memencet terus seperti di Bulb. Satu pencetan saja, maka shutter curtain akan membuka dan langsung mengunci. Saat waktu exposure yang anda inginkan sudah terpenuhi, (tergantung kameranya) anda bisa memencet tombol shutter sekali lagi untuk menutup shutter curtainnya (atau memindah speed dial dari T ke value lain)

Dengan kecanggihan teknologi sekarang, Mode dial bisa mengakomodasi parameter ke 3 yaitu ISO. Misalkan di kamera Pentax K7, ada tambahan extra mode lagi selain P/Av/Tv/M :

- Sv = Sensitivity priority. User menentukan isonya, speed dan aperture ditentukan kamera berdasarkan kondisi cahaya.

- TAv = Speed & Aperture Priority. Mirip Manual mode, tapi disini parameter ISO = Auto Iso. jadi user menentukan speed dan aperture, Iso diatur kamera mengikuti kondisi cahaya.

Selain mode-mode tersebut, di kamera-kamera yang lebih "pemula" biasanya ada banyak pilihan "scene mode" seperti macro mode, portrait mode, night shot mode, dll. Itu adalah mode yang sama dengan P (Program) mode, bedanya adalah di pilihan exposure dan focal length lensa yang dipakai. Misalkan Macro mode (untuk mendapatkan magnifikasi besar), exposure modenya sama dengan P mode, tetapi otomatis lensa di ZOOM ke focal length terbesar (tele) dan focus minimum, otomatis dilakukan oleh kamera. Hal ini memudahkan user yang belum terlalu mendalami fotografi supaya bisa mendapatkan hasil yang lebih baik.

Dari semua mode tersebut diatas, peran kamera sebagai alat metering cahaya sangat penting. User perlu memahami cara kamera "membaca" cahaya supaya tau kelebihan dan kekurangan kameranya. itu akan dibahas lebih lanjut di artikel berikutnya.

Senin, 02 Agustus 2010

Simple Photography : The Third Element...

Secara sederhana, semua kamera hanya mempunyai 2 parameter yang bisa dikontrol : Aperture dan Speed.
tapi sebenarnya, ada parameter ketiga yang turut berperan dalam sebuah gambar, bisa di kontrol, dan dijaman sekarang sudah terintegrasi dengan kamera (digital).

Parameter ke 3 tersebut ialah ISO.

Iso ialah sensitivitas sensor. Di kamera film, ini ialah iso film yang digunakan. Misalkan sekali anda masukkan film iso 200, maka dalam satu roll tersebut mau nggak mau anda harus pakai iso 200 terus. Di kamera digital, dengan kemudahannya, kita bisa mengganti iso untuk setiap gambar.
Apa gunanya iso dan apa efeknya ?

Semakin tinggi nilai suatu ISO, maka sensitifitas sensor semakin besar. Iso 400 hanya butuh separo cahaya dibanding iso 200 (untuk menghasilkan gambar yang sama gelap terangnya).
iso 800 hanya butuh separo cahaya di iso 400, atau 1/4 cahaya di iso 200.

Jadi secara sederhana, kelipatan iso berjarak 1 stop : iso 25-iso 50-iso 100- iso 200- iso 400-iso 800, dst..

Lalu apa bedanya gambar yang diambil di iso 100 dengan iso 800 ?

1. Kecepatan (speed?) :
Di iso 100, anda harus butuh cahaya lebih banyak dibanding di iso800 untuk membuat gambar yang sama, artinya, anda cenderung "harus" menggunakan kecepatan lambat di iso100 (untuk mengumpulkan banyak cahaya) dan cenderung menggunakan speed tinggi di iso 800.
Perhatikan foto dibawah ini, gambar kiri dibuat dengan iso80, aperture f2.9, dengan speed 1/13s. Gambar kanan (dengan kondisi cahaya yang sama) dibuat dengan iso 1600, aperture f2.9, dan speed yang didapat = 1/250s.

Jadi, secara tidak langsung, iso yang lebih tinggi bisa dianggap "lebih tinggi kecepatannya" dibanding iso rendah. Hal itu memungkinkan kita mengambil gambar dengan speed yang lebih tinggi, getaran tangan lebih tidak terasa, object bisa difreeze movementnya lebih baik.

Lalu, apakah iso tinggi lebih berguna dibanding iso rendah ? Tidak ! iso rendah juga memiliki kelebihannya sendiri (ingat, speed yang rendah punya "kekuatan-nya" sendiri dalam membentuk gambar), untuk gambar-gambar yang butuh speed rendah, iso rendah lebih nyaman dipakai karena memungkinkan speed rendah tercipta. Iso rendah juga memungkinkan kita menggunakan aperture selebar-lebarnya untuk mengejar efek DOF yang kita inginkan. Misalkan begini : anda harus memotret model siang hari, terang benderang, dan anda ingin bermain DOF yang limited (sempit). Anda pakai iso 800, saat anda meter scene-nya, ternyata didapat hasil metering : 1/1000s f16. Asumsikan kamera anda mempunyai kemampuan speed yang cukup "pro", 1/8000s, jadi anda geser kombinasi tersebut supaya anda bisa dapat aperture yang lebih besar.
1/1000s f16 = 1/2000s f11 = 1/4000s f8 = 1/8000s f5.6... sudah mentok speednya, anda cuma dapat aperture f5.6 yang DOFnya masih terlalu lebar untuk objectnya. Jadi anda nggak bisa bermain DOF yang extreem gara-gara pakai iso tinggi.

Kasus yang sama, saat anda pakai iso 100, meter area yang sama, anda akan dapat hasil metering 1/125s f16. Kombinasi itu bisa digeser :
1/125s f16 = 1/250s f11 = 1/500s f8 = 1/1000s f5.6 = 1/2000s f4 = 1/4000s f2.8 = 1/8000s f2.
Dengan aperture f2, anda bisa membatasi DOF lebih extreem dibanding di f5.6 ..he..he..
Semua iso punya kekuatannya sendiri-sendiri.

2. Noise :
Baik di film maupun digital, saat sensor dinaikkan isonya (film diganti dengan film yang lebih tinggi isonya), berarti anda seolah-olah menaikkan "GAIN" keseluruhan sistem.
dari iso 100, anda butuh cahaya = 1, di iso 200, anda butuh cahaya = 1/2. Berarti peningkatan "GAIN" = 2 kali lipat lebih sensitif. Saat Gain naik, secara natural, anda tidak hanya menaikkan sinyal yang masuk, tetapi juga menaikkan noise. Noise yang timbul di iso tinggi bisa berupa noise warna, noise titik-titik, dll yang dalam taraf tertentu akan cukup mengganggu gambar anda. Perhatikan gambar dibawah ini, hasil "crop" 100% dari dua gambar di atas, perhatikan noise yang ditimbulkan di iso tinggi (gambar kanan)

Seberapa mengganggu noise itu dalam gambar, tiap orang berbeda pendapatnya. Jadi gunakan iso tinggi seperlunya saja, karena secara umum, iso rendah memberikan anda hasil yang lebih "bagus" dibanding iso tinggi.

Semakin banyak noise, detail yang ada dalam gambar akan semakin terganggu. Beberapa kamera digital berusaha membantu mengurangi noise dengan menambahkan fasilitas Noise Reduction di iso tinggi, tapi semakin banyak noise reduction yang kita berikan, semakin berkurang juga detail di gambar karena ikut terfilter oleh noise reduction. Hal itu memberikan dilema buat usernya, saat menggunakan iso tinggi : apakah memilih dapat gambar noisy tapi detailnya lebih terlihat, atau gambar tanpa noise tapi detailnya juga berkurang. Pada akhirnya semua hal itu adalah permainan "bargaining" alias tawar-menawar dengan kondisi yang ada, baik kondisi cahaya, kemampuan kamera, keinginan user, dsb.

Dengan adanya parameter ke-3 ini, anda sudah siap memotret lebih "bijaksana"..he..he..

Minggu, 27 Juni 2010

Simple Photography : The Speed Effects

Speed (kecepatan rana) kamera, bisa bermacam-macam tergantung kameranya.
Kamera-kamera yang "pro" biasanya memiliki speed cepat dari 1/8000s, hingga misalkan sampai 30 detik. Kamera rangefinder, mungkin hanya 1/500s-1s, kamera slr biasa mungkin dari 1/1000s-1s, dsb. Lalu apa efeknya terhadap gambar ?

1. High Speed

Speed yang tinggi, akan membuat tirai shutter membuka dan menutup dalam durasi yang cepat, sehingga cahaya yang masuk juga sedikit. Seandainya ada kendaraan sedang lewat didepan kamera, trus kita potret dengan speed yang tinggi, kendaraan baru mau bergerak, shutter curtainnya sudah nutup, jadinya gerakan kendaraan tersebut di "freeze" atau di-beku-kan/dihentikan dalam gambar. Tentunya penggunaan speed tinggi hanya dimungkinkan saat cahaya melimpah dan didukung oleh lensa yang terang/besar aperturenya. Kalau speed tinggi digunakan saat cahaya lemah, gambarnya akan jadi gelap (under exposure).

Lihat contoh dibawah ini. Foto dilakukan siang hari, speed 1/2000s, aperture sekitar f5.6 (karena cahaya sangat terang jadi lensa tidak harus dibuka wide open). Lensa yang dipakai ialah 50mm f2. Gerakan motornya jadi terhenti kan ?
Lalu mungkin akan timbul pertanyaan : Seberapa cepat speed harus digunakan untuk nge-freeze suatu gerakan object ? Saya tidak tau. Ini tergantung gerakan objectnya, jarak object terhadap kita dan lensa yang digunakan. Untuk contoh saat saya pakai lensa 50mm :
- Anak-anak berlari-larian, mungkin 1/125s sudah cukup untuk mem-freeze gerakan mereka.
- Tangan yang terayun mengipasi wajah, mungkin 1/60s.
- Motor yang ngebut di jarak 5meter didepan saya, sekitar 1/1000s
- Peluru yang melintas didepan saya, mungkin 1/8000s atau lebih baru bisa di freeze (belum pernah coba..he..he.)

Saat menggunakan lensa yang lebih wide, sudut tangkapannya lebih lebar, jadi pergerakan object akan tertangkap lebih sedikit digambar. Hal itu akan membuat kebutuhan speed untuk mem-freeze object berkurang. Misalkan motor ngebut, bisa difreeze oleh lensa 24mm dengan speed 1/125s saja.

Jarak juga mempengaruhi efek pergerakan object di realita terhadap hasil di gambar. Semakin jauh jaraknya, semakin berkurang efek pergerakan object yang terlihat di gambar. Misalkan pesawat terbang, saat jauh, anda bisa freeze dengan speed 1/30s, tapi saat dekat, mungkin 1/2000s belum cukup.

Intinya, "High Speed" memiliki efek "Freeze Movement"

2. Low Speed.

Speed yang lambat akan membuat gambar terekam lebih lama. Misalkan motor yang ngebut tadi, anda foto dengan speed 1/30s. Begitu tombol shutter dipencet, tirai dibuka, motor sudah lewat nih, baru shutter ditutup setelah 1/30s. Hasilnya, motor akan tampak berbayang-bayang karena terekam pergerakannya. Lihat gambar dibawah ini, masih dengan lensa 50mm, speed sekitar 1/60s.
Mungkin anda sempat berpikir, lalu apa gunanya low speed, seolah tak berguna sama sekali. Tentu tidak, low speed berguna karena efeknya yang merekam semua gerakan, berarti juga merekam semua cahaya yang jatuh ke sensor anda !

Misalkan, anda berusaha memotret jalanan kota anda yang temaram di malam hari, saat anda pakai speed tinggi, hasilnya akan gelap tentunya. Saat anda pakai speed rendah, semua cahaya dikumpulkan semakin banyak dengan berjalannya waktu exposure, jadilah suasana lebih hidup, lampu-lampu terekam jelas, kendaraan yang lewat memberi goresan cahaya yang menghidupkan, atmosfer tidak gelap lagi tapi lebih menyala ! Perhatikan contoh dibawah, gambar kiri dengan speed 1 detik, gambar kanan dengan speed 8 detik. Lihat cahayanya, lihat efek "memorize" yang timbul dan suasana yang lebih hidup..

Jadi, intinya, "Low Speed" memberikan efek "Memorize Movement"

====
Gambar yang hidup adalah gambar yang bercerita, betul kan ?
Coba lihat gambar motor ngebut diatas, baik versi high speed maupun versi low speed.
Gambar mana yang lebih hidup ?

Versi high speed tampak seperti dua orang duduk diatas motor ditengah jalan dan "diam" saja. Gambar itu tidak bercerita apakah orangnya ngebut atau tidak. Mungkin hanya orang yang iseng ditengah jalan ?

Versi low speed, malah tidak bercerita lebih banyak, ada yang ngebut tapi gak jelas siapa, motornya apa, dll.

Bagaimana kalau kita hidupkan suasana dengan sedikit trik. Lihat gambar dibawah.
Apa cerita gambar ini ? Lebih banyak dibandingkan versi high speed/low speed diatas?
kalo penasaran, baca terus blog saya sampe ke cara bikin "panning", versi low speed yang lebih mengoptimalkan kemampuan low speed dalam "memorize movement" untuk menunjukkan unsur "speed" yang terkandung di gambar (yang tidak bisa ditunjukkan oleh versi high speed).